Preaload Image

Demi Optimalkan SDGs, Tim Departemen Akuntansi FEB UM Dukung Bersih Desa : Pesta Rakyat, Sakralitas, dan Keguyuban Warga Desa Samar

Desa merupakan kelompok masyarakat yang tidak melupakan asal-usulnya dan melestarikan adatnya. Tiap-tiap desa di Indonesia punya cara masing-masing untuk mengingat asal-usul dan melestarikan adat mereka. Di Desa Samar, sebuah desa di dekat Gunung Bandil, Kabupaten Tulungagung, upaya mengingat asal-usul dan melestarikan adat tersebut diwujudkan dalam kegiatan “bersih desa”. Nama “bersih desa” bukan berarti sekadar membersihkan sebuah desa atau yang populer disebut kerja bakti. Di Jawa, “bersih desa” bermakna membersihkan desa, baik secara lahir (material) maupun batin; membersihkan desa dari kotoran, penyakit, bencana, dan hal-hal negatif lainnya; serta sebagai ungkapan syukur warga atas segala sesuatu yang telah mereka miliki atau dapatkan selama setahun ke belakang.  Kegiatan ini mendukung adanya Sustainable Development Goals (SDGs). TPB/SDGs bertujuan untuk menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat, menjaga kualitas lingkungan hidup serta pembangunan yang inklusif dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kegiatan ini mendukung SDGs 15 yaitu ekosistem daratan. Hal ini karena bersih desa akan menyebabkan lingkungan darat yang sehat.

Bentuk acara bersih desa beragam, di antaranya upacara adat, doa bersama, pagelaran seni, dan lain-lain. Bentuk-bentuk ini biasanya disesuaikan atau bergantung pada asal-usul atau sejarah desa. Di Desa Samar, bersih desa diawali dengan membersihkan seluruh desa, terutama tempat-tempat keramat, makam, masjid, surau, balai desa, dan jalanan. Warga desa membersihkan semua itu bersama-sama, sebab desa adalah milik mereka bersama. Kegiatan bersih-bersih ini biasanya juga menjadi ajang untuk berkumpul dalam rangka mengevaluasi kesepakatan warga desa atau membuat kesepakatan baru yang akan bermanfaat ke depannya.
Setelah membersihkan desa secara material telah dilakukan, beberapa laki-laki (umumnya perangkat dan tokoh desa) melakukan nyadran, yakni berkurban hewan di tempat keramat, dalam hal ini di Gunung Bandil. Mengapa Gunung Bandil dianggap keramat oleh warga Desa Samar? Menurut keterangan seorang dalang sekaligus sesepuh Desa Samar, Mbah Marjuki Mardi Sabdo (76) ketika diwawancarai pada Rabu (22/6), dahulu saat geger Kerajaan Kediri (bagian dari Kerajaan Mataram Kuno) dan Majapahit, keturunan Raja Kediri yakni Panji Asmorobangun, pernah mengasingkan diri di Gunung Bandil. Bandil adalah nama senjata tradisional prajurit yang mengawal Panji. Bandil berupa besi yang dapat dilemparkan ke arah lawan, lalu kembali lagi ke arah asalnya. Cara kerjanya mirip bumerang.
Di Gunung Bandil, nyadran tepatnya dilakukan di sebuah tempat bernama petilasan. Secara bahasa, petilasan berarti tempat beristirahat. Petilasan Gunung Bandil adalah tempat yang berupa bebatuan yang dikelilingi tembok dan dipagar. Hingga kini, medan menuju petilasan masih dipertahankan seperti dahulu. Tanah yang menanjak dan penuh bebatuan, serta samping kiri-kanan yang dipenuhi pohon bambu. Pohon-pohon bambu tersebut bak tirai yang menuntun kita menuju pintu masuk petilasan. Di Gunung Bandil, petilasan inilah yang dulunya ditempati Panji Asmorobangun ketika mengasingkan diri hingga meninggal karena sakit.
Hewan yang biasanya digunakan untuk nyadran di Petilasan Gunung Bandil adalah kambing. Kambing disembelih, lalu kepala dan bulunya dipisah untuk diletakkan di atas bebatuan, sementara dagingnya langsung dimasak dengan kayu bakar. Sebagian daging, khususnya bagian paha dan kulit, juga dipisahkan dalam kantong plastik untuk digantungkan di sekitar petilasan. Sembari menunggu daging yang dimasak matang, juru kunci Gunung Bandil yang akrab disapa Mbah No, memulai ritual. Seperti ritual pada umumnya, di hadapan juru kunci terdapat sesajen yang berisi bunga, menyan, arang, asam jawa, dan lain-lain. Setelah ritual selesai, Kepala Desa Samar, Rubik Astanto, memimpin doa secara islam. Ketika doa bersama selesai dan semua orang yang hadir keluar dari area bebatuan, Kepala Desa memanjatkan doa sendirian di hadapan bebatuan tersebut. Tak lama kemudian, semua orang yang hadir memakan daging yang telah matang, bersama-sama.
Malam hari setelah nyadran, puncak acara bersih desa digelar. Di Desa Samar, puncak bersih desa ada dua macam, yakni tahlilan dan pagelaran wayang. Keduanya biasanya bergantian tiap tahun, sebab ada pertimbangan biaya dan operasional. Akan tetapi, cara bergantian ini lama-kelamaan menjadi kebiasaan atau tradisi desa. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan jika puncak acara tahun sebelumnya dan tahun berikutnya sama, tergantung kesepakatan desa. Tahlilan diadakan di balai desa atau di tiap dusun, sementara pagelaran wayang selalu diadakan di balai desa dengan meriah.
Tahun ini, Desa Samar menampilkan pagelaran wayang murwokolo. Murwokolo adalah sebuah cerita wayang yang bermaksud sebagai ruwatan (menghilangkan keburukan). Dalam cerita wayang ini, ada banyak tokoh yang menggambarkan karakter manusia. Biasanya penonton akan mendapatkan amanat cerita yang berfokus soal apa konsekuensi dari perbuatan buruk, dan bagaimana perbuatan baik yang mestinya dilakukan. Zaman dulu, cerita wayang ini kerap digunakan sebagai media dakwah. Pagelaran wayang di tahun ini adalah pagelaran pertama sejak 2019, sebab Desa Samar terakhir kali mengadakan pagelaran wayang pada 2018, sebelum pandemi Covid-19.
Semua rangkaian bersih desa, baik sejak membersihkan desa hingga acara puncak, diadakan pada bulan Selo dalam perhitungan Jawa. Secara bahasa, selo berarti di sela-sela, di waktu luang. Harapannya, seluruh rangkaian bersih desa tidak akan mengganggu kegiatan atau pekerjaan warga, sehingga mereka dapat berpartisipasi atau turut menyukseskan acara. Sebab idealnya menurut Mbah Marjuki, warga desa memiliki tiga kewajiban. Pertama, nggarbeni, yakni memiliki rasa turut memiliki desa. Kedua, ngungkepi, yakni menjalankan tugasnya sebagai anggota masyarakat desa. Terakhir, mulat sariro ngroso wani, yakni memiliki keberanian jika diri sendiri sudah benar dan berguna. Jika ketiga kewajiban sebagai warga tersebut sudah dilakukan, maka akan tercipta guyub (kerukunan).
Acara demi acara yang digelar selama bersih desa diputuskan berdasarkan musyawarah antara aparat desa, panitia bersih desa, dan warga. Dana kegiatan bersih desa juga disokong oleh berbagai pihak, seperti Anggaran Pendapatan Belanja Desa (APBD), partisipasi warga, dan donatur. Dengan demikian, bersih desa bukanlah seremoni tahunan yang eksklusif atau hanya diadakan/ditujukan bagi sekelompok orang saja, tetapi seluruh warga Desa Samar. Gampangnya, sebuah pesta rakyat yang sakral dan mencerminkan keguyuban warga.
Translate »
Skip to toolbar