Preaload Image

Kerajinan Bambu, Bahan Baku Sangkar Burung sebagai Wujud Nyata Mendukung SDGs di Desa Samar Tulungagung

Mahasiswa Program Kerja Reguler Semester Antara 2021/2022 Universitas Negeri Malang (UM) menilik proses pembuatan kerajinan bambu untuk bahan pembuatan sangkar burung di Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung. Sutikno, perajin bambu, memeragakan proses pemecahan dan penipisan batang bambu di ruang kerjanya di Dusun Krajan, Desa Samar. Kegiatan ini diketuai oleh Bapak Slamet Fauzan, S.Pd., M.Pd Selaku Dosen Akuntansi UM.  Kegiatan ini mendukung adanya Sustainable Development Goals (SDGs). TPB/SDGs bertujuan untuk menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat, menjaga kualitas lingkungan hidup serta pembangunan yang inklusif dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kegiatan ini mendukung SDGs 8 Pekerjaan layak dan Pertumbuhan Ekonomi dan SDGs 15 yaitu ekosistem daratan. Hal ini karena ke akan mendukung kehidupan masyrakat sejahtera dan lingkungan darat yang sehat dengan menggunakan bahan ramah lingkungan.

“Kalau ada ini (alat pemecah/penipis bambu), kan, cepet, ya,” ujarnya sembari memecah dan menipiskan bambu-bambu menjadi ukuran-ukuran tertentu, dari 40 hingga 60 cm. Selain ukuran panjang yang harus dipastikan, bambu-bambu juga harus ditipiskan seperti lidi agar lentur dan mudah dibentuk menjadi sangkar burung. Satu ikat biasanya terdiri atas 10 ribu lidi bambu dan dijual mulai harga 30 hingga 50 ribu rupiah, tergantung ukuran panjang.

Sebagai produsen bambu yang masih berbentuk lidi, Sutikno kemudian menyetorkan bambu-bambu tersebut ke agen atau distributor yang telah bekerja sama dengannya. Sejauh ini, Sutikno banyak mendapatkan pesanan bambu dari Tulungagung, Malang, dan Nganjuk. Salah satu wilayah yang belum pernah memesan bambu miliknya adalah Blitar. Oleh sebab itu, Sutikno mengaku ingin meluaskan pasarnya ke sana.

Akan tetapi, Sutikno dihadapkan pada dilema. Di samping ingin meluaskan pasar, ia juga kerap kewalahan dan membatasi pesanan yang masuk kepadanya. “Kalau saya turuti, (pesanannya) mungkin lebih banyak. Tapi saya nggak sanggup dari segi tenaga,” kata Sutikno. Jika ada pesanan yang melampaui tenaganya, Sutikno bisa saja mempekerjakan beberapa orang. Akan tetapi, ia enggan melakukan hal itu karena pendapatan yang tak seberapa setelah dipotong modal atau biaya operasional.

Selain tenaga yang terbatas, kendala yang Sutikno alami yakni soal jumlah dan kualitas alat atau mesin. Untuk membuat puluhan ribu lidi bambu, ia hanya memiliki satu alat pemecah/penipis bambu. Sebelum dipecah atau ditipiskan, bambu-bambu yang masih utuh juga harus dipanaskan dalam alat khusus yang Sutikno buat sendiri.

Masalah yang kemudian muncul adalah kualitas alat tersebut tak terlalu bagus, sebab menggunakan bahan murah. “Kalau saya tanya ke teman-teman yang biasa buat alat ini (pemanas), mereka pakai aluminium yang tebal sekali. Harganya bisa 20 juta. Mending saya buat sendiri saja, seadanya.

Yang penting bisa kerja.” ungkap Sutikno. Meski kualitasnya tak terlalu bagus, alat pemanas tersebut telah membantu Sutikno selama ini.

Sebab, sebelum diproses lebih jauh, bambu-bambu harus dipanaskan agar tak berjamur. Berkat alat pemanas, Sutikno tak perlu khawatir soal kemungkinan cuaca maupun kelembapan udara yang akan mempengaruhi kualitas bambu. Setelah dipanaskan, bambu-bambu akan selalu dalam keadaan kering dan aman untuk disimpan dalam jangka waktu lama, termasuk ketika sudah berupa sangkar burung.

Translate »
Skip to toolbar