Preaload Image

Demi Optimalkan SDGs, Kecamatan Pagerwojo Tulungagung Gelar Kerajinan Mosaik Pertama dengan Dukungan Tim Pengabdian Akuntansi FEB UM

Tim Pengabdian Akuntansi FEB UM dan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Semester Antara Tahun 2021/22 Universitas Negeri Malang (UM) melakukan tahap finalisasi pada pemasangan mosaik bambu dan batok kelapa di Agroeduwisata Jeruk-Jeruk, Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung. Mosaik yang berperan sebagai spot foto dan identitas tempat wisata tersebut merupakan kerajinan mosaik berbahan bambu dan batok kelapa pertama di Kecamatan Pagerwojo yang pembuatannya bekerja sama dengan UMKM setempat. Kegiatan ini dikoordinatori oleh Bapak Slamet Fauzan, S.Pd., M.Pd Selaku Dosen Akuntansi UM. Kegiatan ini mendukung adanya Sustainable Development Goals (SDGs). TPB/SDGs bertujuan untuk menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat, menjaga kualitas lingkungan hidup serta pembangunan yang inklusif dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kegiatan ini mendukung SDGs 3 kehidupan sehat dan sejahtera, SDGs 8 Pekerjaan layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Hal ini karena kerajinan mozaik mendukung masyarakat menjadi sejahtera dan juga ekonomi akan tumbuh dengan optimal.

Agroeduwisata Jeruk-Jeruk sendiri merupakan salah satu tempat wisata unggulan di Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo yang berupa kebun jeruk dengan view pegunungan di sekelilingnya. Selain kebun jeruk, terdapat kafe, gazebo, dan spot foto.

Berbahan dasar tripleks, bambu, dan batok kelapa, pengerjaan mosaik yang dilakukan oleh mahasiswa KKN UM memakan waktu sekitar 1 bulan. “Desain mosaik dikonsultasikan dulu dengan Pak Bagong, perajin batok kelapa di Desa Samar, karena pembuatan mosaik ini bekerja sama dengan beliau dan dibantu beliau juga (di lapangan),” kata mahasiswa KKN UM, Muhammad Zunaedy Abdilla. Selain mempromosikan usaha milik Pak Bagong, kerja sama yang terjalin juga diharapkan dapat mengangkat sumber daya alam maupun manusia yang dimiliki Desa Samar.

Setelah desain disepakati, pengerjaan mosaik yang terdiri atas tahap pemotongan, pengampelasan, dan penempelan bahan-bahan  dilakukan sejak 8 Juni hingga Minggu (17/7). Setelah itu, sejak Senin (18/7) hingga hari ini, dilakukan pembuatan rangka—pemasangan—dan finalisasi pemasangan. Selain rangka, mosaik juga diberi atap yang terbuat dari daun tebu agar terlindungi dari panas dan hujan.

Pemilihan batok kelapa sebagai salah satu bahan dasar mosaik bukan tanpa alasan. Ketimbang kayu lainnya, batok kelapa lebih tahan lama. Materialnya yang begitu padat, terutama setelah diampelas, cenderung anti air. Akan tetapi, batok kelapa juga memiliki kelemahan yakni rawan hancur. Bentuknya sulit dikontrol, sebab pecahan yang timbul kerap tidak beraturan. Meski begitu, mahasiswa KKN UM berusaha agar tidak ada bahan-bahan yang terbuang.

Mosaik bertuliskan sugeng rawuh (bahasa Jawa, selamat datang) yang telah rampung dipasang di bagian dalam Agroeduwisata Jeruk-Jeruk. Mahasiswa KKN UM, Gina’ Ulkhair mengatakan bahwa titik pemasangan tersebut dipilih sebab letaknya strategis. “Tempatnya strategis, belakangnya view gunung, buat foto-foto (para pengunjung). Itu juga bekas (letaknya) gazebo, tapi sudah dibongkar. Jadi daripada kosong, kami buatlah spot foto baru.” pungkas Gina.

Translate »
Skip to toolbar